Saturday, 8 December 2012

(Belum) Saatnya Menjadi Model


           Well, kisah ini adalah kisah fiktif tapi boleh dibilang sedikit ada benarnya. Fiktif disisi saya model, dan ada benarnya saat saya melakukan pemotret untuk sebuah sesi yang semua orang bisa mengajukan diri jika mau. Haha.

          Ya, berawal dari teman saya seorang calon editor salah satu media cetak besar nasional yang berbasis di Jawa Timur menawarkan saya untuk ikut di salah satu kolom anak muda di harian tersebut. Langsung deh redaktur dari kolom tersebut menelpon saya,  setengah bingung karena perasaan saya g pernah daftar, akhirnya saya menunda jawaban saya *tsah. Mengingat jadwal kesibukan (baca tugas kuliah) yang kurang supportif dan beberapa aktivitas (bermain) lainnya, saya meminta waktu untuk mengkonfirmasi apakah iya atau tidak *aseek. 
          Menit demi menit untuk memikirkan hal tersebut, dan karena ingin lari dari tugas kuliah, serta mencoba kesempatan baru, saya pun meng-iya-kan. Haha. Kemudian, kita diminta untuk datang ke salah satu Cafe di Grand City esok sorenya untuk melakukan sesi foto bersama teman-teman yang lain.
       Esok harinya, jrengjreng, saya bertemu teman-teman baru, ada yang memang berbasis model jadi mereka sudah terbiasa dalam sesi foto, dan ada yang memang baru dihubungi sama seperti saya. Yah jadilah kita ada yang canggung didepan kamera, termasuk saya. Padahal saya biasanya memotret sejak awal masuk SMA, kini saya sebagai model dadakan *tepok jidat.

Langsung aja deh ini hasil foto dari redaktur….tp muka sensor dikit ya :D





p.s. Foto selanjutnya tunggu post saya, haha

Saturday, 10 November 2012

Tentang Hari Pahlawan

" mereka, pahlawan tanpa tanda jasa, mengabdi untuk bangsa, memberikan segala, semangat merah darah membara, dan hanya satu keinginan mereka...Indonesia MERDEKA !!! "


Yang saya pikirkan saat ini, apakah mereka bahagia disana ? melihat negara Indonesia saat ini ?
apakah mereka bahagia disana ? melihat sudahkah negara ini berjalan menuju tujuannya ?
dan apakah mereka bahagia ? generasi penerusnya lebih dari kebaikan yang mereka kira ?

saya tidak tahu...
saya juga berharap, dan berusaha
Indonesia Jaya !

Sumber http://ninotannio.tumblr.com/

10.11.12 - Kota Pahlawan surabaya, di antara terik siang, suara mobil padat merayap jalanan, dan udara panas dari kap mobil2 mewah yang mengantri di lampu merah. serta nyanyian pengamen jalanan. Selamat hari pahlawan

Thursday, 1 November 2012

Senyuman

senyuman

aku ingin memulainya dengan itu.
Sebuah ciptaan terindah...
dan Tuhan mendadak seperti menganugerahkan semua kelebihan kepada pribadinya

kecantikan fisik yang sempurna
kelebihan harta yang membawa pada kebaikan
keturunan yang terjaga
agama yang menjadi tujuannya.

sekali lagi, senyuman yang mampu kulakukan

dia ramah, pintar, terlebih banyak pengagumnya
tak hanya itu,
pencapaiannya jauh
dengan usahanya
maupun kerja kerasnya.
seiring dengan doa darinya serta kedua orang tua.

Tuhan, kau seperti menghadiakan senyuman pada makhluk-Mu

Kau ciptakan sinar dalam hatinya, Indah, bahkan
untuk mendekat, bintang pun segan
begitupun dengan kami

pada akhirnya
Jarak memberikan sebuah pandang dari kejauhan,
lantas malam ingin mengukapkan kata kekaguman
atau mencari sejuta alasan untuk berbicara bersama
bahkan mungkin untuk berbagi
sekali lagi
tentang segala Anugerah dari-Mu Tuhan
ini jalan yang Kau berikan untuk saat ini
aku memilih berdiam sampai kepastian datang
dan menyapanya dengan

senyuman


#bersama bulan di atas langit Surabaya, Venus di Barat, dan Mars menyusul,
   serta cicak di langit-langit kamar. Satu dini hari. saya begadang lagi.


Saturday, 27 October 2012

Tentang Pemuda-Pemudi Indonesia


 Mungkin ini hanya bagian kecil dari baris-baris kalimat yang mampu menggambarkan kekaguman saya pada Pemuda-Pemudi Indonesia. 
Pemuda-Pemudi yang akan membawa Indonesia, menjadi Bangsa yang Besar, dengan Anugerah Alam dari-Nya, dengan segala potensinya, terbentang dari bujur terpanjang di Dunia. Negara Khatulistiwa, dengan sejuta cerita mengenai menariknya bangsa ini, dan dengan Pemuda-Pemudi yang berdiri dibarisan paling depan, mengharumkan nama pertiwi, Indonesia Raya.

***

Saya kagum kepada pemuda-pemudi Indonesia, mereka sering melakukan perjalanan untuk menaklukan gunung-gunung, sehingga negara ini tak perlu takut kekurangan pemimpin muda yang hebat dan menghargai negaranya, menjaganya.

“Tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa jika pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung. (Henry Dunant)” 

Saya kagum kepada mereka pemuda-pemudi Indonesia, dengan kekuatan fisik dan jiwa mudanya, mereka menjelajah pantai-pantai, pulau-pulau dan berbagai daerah di negeri ini, untuk keindahan alam Indonesia, untuk mengetahui, menghargai, dan bangga menjadi Indonesia. 

"Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek-objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat kerena itulah kami naik gunung (Soe Hok Gie)"

Saya kagum kepada mereka pemuda-pemudi Indonesia, yang mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan membuktikan diri dengan menjadi juara. Negara lain mengakui pikiran mereka, fisika, kimia, ekonomi, geografi, sosial, dan berbagai disiplin keilmuan lainnya. Negara ini tidak perlu takut kehabisan ilmuan-ilmuan jenius, dan yang paling penting mereka mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan Indonesia.

"Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain? (Emha Ainun Najib)"

Saya kagum kepada mereka pemuda-pemudi Indonesia. Mereka semua memiliki jiwa seni, pecinta seni, dan berkarya dalam seni, Seni musik, seni rupa, seni lukis, seni pahat, dan berbagai jiwa kreativitas yang mereka ungkapkan dalam seni. Ahhh sungguh indah Indonesia ini, ketika pemuda pemudinya memiliki sisi keindahan dalam seni mereka. Tak hayal negara Ini memiliki beratus kesenian daerah. Ahh memang kaya negara ini dengan pemuda-pemudinya.

“Kurasa, buat sebagian orang, seni menjadi bagian penting yang sulit dipisahkan dari diri mereka. Seni juga bentuk pelarian, cara untuk melampiaskan emosi. Mungkin karena itulah, seni terkadang bisa mengubah orang. (Annalise)”dalam Refrain karya Winna Efendi

            Saya kagum kepada mereka pemuda-pemudi Indonesia, yang aktif dalam organisasi, memiliki peran penting dalam sebuah organisasi yang tak bertujuan profit, bahkan menjadi pemimpin dalam organisasi dalam ataupun luar negeri. Dan tak jarang mereka yang menjadi panutan utama pemuda pemudi dari Negara lain. Pemuda pemudi yang aktif dalam organisasi yang menjadikan bangsa Indonesia lebih baik, bertujuan untuk kebaikan sesama, dan menjadikan mereka pribadi yang mampu memimpin dan dipimpin.
 Ahh, Negara ini sangat beruntung, Pemuda-pemudinya memiliki semangat dan kemampuan untuk menjadikan bangsa ini besar, Bangsa Indonesia….  
 
" beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia " - Ir. Soekarno

: sebuah rasa optimis muncul, Negara ini Negara besar dengan pemuda-pemudinya.
Dan ketika saya melihat teman-teman disekeliling saya yang sangat hebat dengan pencapaiannya, dan mereka pemuda-pemudi anak dari Ibu Pertiwi. Indonesia…
dan saya disini sadar, saya belum mencapai apa-apa tapi saya akan berusaha :)

Friday, 19 October 2012

Senja Semerbak di Atas Khatulistiwa

Kau tahu, shubuh pergi saat senja datang
keabadian diganti dengan reformasi dadakan
kepercayaan berakar pada keuangan
dan lantas kalian bahagia ?

Tersenyum, tertawa lantang dan meneriakkan perubahaan
teriakan pengakuan bahwa semua lebih baik
tapi kenyataannya?

Ya! saya juga berharap semua lebih baik
lebih baik dengan keputusan penuh perhitungan
dengan pertimbangan
dan sebuah aksi bertanggung jawab, yang lantas
meninggalkan delegasi indah kepada bibit mudanya.
membawa semerbak kepada senja di Atas
Khatulistiwa...

- sebuah harapan untuk negara.

Thursday, 11 October 2012

Hey Ho Ijen ! ( Part 1 )


Halo semua, saya ingin berbagi pengalaman travelling terakhir yang cukup jauh (diukur dari Surabaya) dan cukup berkesan karena banyak pengalaman baru disini. Penasaran ? (pede) so langsung aja mas dan mbak :D
Gunung Ijen yang terkenal dengan penghasil belerang ini merupakan salah satu objek wisata terkenal di Indonesia, ga tanggung-tanggung terkenalnya sampai Eropa, bahkan waktu saya kesana kebanyakan pengunjung berasal dari Perancis, negara yang dikenal dengan bahasa romantisme dan Menara Eiffel.
Sebenernya, Gunung Ijen bukan hal yang baru sebagai tempat wisata jika dibandingkan dengan Karimun jawa saat ini. Udah banyak orang yang pergi kesana, termasuk teman-teman saya menggunakan berbagai pilihan Biro Perjalanan atau Travel Agent dengan fasilitas melimpah seperti Jeep untuk naik ke desa terakhir serta penginapan berbintang di Banyuwangi. Berhubung saya menyukai tantangan dan pengalaman baru (red: G punya duit banyak untuk membeli paket wisata) dan baru saat mahasiswa ini saya diberi kepercayaan orang tua untuk travelling sendiri sehingga baru saat ini saya bisa travelling ke tempat yang cukup jauh (diukur dari Jogja) asal menggunakan uang saku sendiri juga, haha. Saya memutuskan untuk pergi ke Ijen bermodalkan kenalan teman dari AIESEC UI yang asli dari Banyuwangi. Sebut saja Zhuko Pangeran dari Negara Api yang kini membantu Avatar :D
                        Disini saya akan menceritakan serta memberikan sedikit cara untuk sampai ke Ijen bermodal seminimal mungkin dibantu oleh bung Zuko. Introduction dikit ya, hehe. Mas Suko ini mahasiswa Teknik Kimia UI yang juga ikut organisasi AIESEC, kita ketemu saat conference tentang HIV/AIDS di Jakarta bersama bule-bule dari berbagai Negara. Manteb kan ? Organisasi AIESEC adalah organisasi pemuda Internasional, jadi disini banyak pengalaman dan pastinya kenalan baru yang bisa kita dapet dari teman-teman dari luar negeri. Oke lanjut ke mas Suko lagi, dia mahasiswa tingkat tiga yang sudah jalan-jalan keluar negeri seperti Myanmar, Thailand, Vietnam, dan masih banyak lagi, klo tentang jalan-jalan, beliau sudah expert lah. Dan bermodalkan backpack serta uang saku hasil dari menjadi guru les untuk murid SMA selama 1 tahun, pinter lo dia, jadi klo mau les, silahkan hubungi nomer dibawah layar kaca anda :D
Kita janjian ketemu di Malang, mengingat kereta ke Banyuwangi via Malang lebih murah dibanding kereta langsung dari Surabaya. Pertama saya naik kereta Penataran ke Malang seharga 4000 rupiah saja, tapi antrinya harus pagi-pagi banget di Stasiun Gubeng Surabaya, mengingat banyak pemakai kereta ini, Sementara Bung Zuko dari Jakarta menggunakan kereta Mataramaja berangkat satu hari sebelumnya dari Pasar Senen, Jakarta. Ketemu di Malang meskipun jadwal kedatangan kereta kami masing-masing berbeda tapi gak sampai ketinggalan Kereta Tawang Alun yang berangkat sekitar pukul 2 siang. Kemudian dari Malang kita naik kereta Tawang Alun seharga 18.500 ke Banyuwangi. Dibanding dengan menggunakan kereta Surabaya-Banyuwangi seperti Sri Tanjung atau Logawa seharga 36.000 rupiah, cara transit via Malang jadi pilihan yang lebih ekonomis  
            Perjalanan ke Banyuwangi dari Malang maupun Surabaya memakan waktu sekitar 5-6 jam, sehingga cukup malam kita sampai disana. Di Banyuwangi saya mampir ke rumahnya bung zuko. Kita skip sejenak untuk pengalaman yang mengesankan bersama keluarga besar bung Zuko mengingat disini kita mau cerita “how to go to Ijen without Travel Agent :D”. Kalian dari Malang bisa turun di stasiun Karangasem di Banyuwangi kemudian menginap sejenak disini untuk mencari angkot esok harinya. (Berhubung saya menginap di rumah keluarga bung Zuko, saya keesokan harinya naik bus dari desa bung Zuko ke Banyuwangi). Dari Stasiun, kita perlu berjalan untuk sampai ke jalan besar yang ada angkotnya. Di sekita kalisasak, angkot tidak banyak untuk menuju ke Kecamatan Licin, bahkan hanya 2x sehari angkot tersebut ada.
Akhirnya kami memutuskan untuk…neeeebeeeng, bahasa kerennya sih hitchhike, haha. Ini pengalaman pertama saya nebeng, agak g enak gimana gitu karena sepertinya orang di Indonesia jarang welcome untuk memberi tumpangan ala hitchhike, apalagi orang-orang dengan kendaraan pribadi, but then setelah cukup lama “mengawe-awe” jempol akhirnya ada truck pengangkut aspal yang dengan baiknya menawari kami naik di kabin pengemudi samping pak kusir :D untung bukan di bak trucknya.hehe
Kami ngobrol-ngbrol sebentar dan nanya gmn sampai ke Pabrik Welirang di Licin mengingat kami akan nebeng truck penambang sampai ke desa Paltuding, desa terakhir sebelum jalan kaki ke Ijen. Pak Sopir yang baik hati ini akhirnya mengantar kan kami sampai ke persimpangan terakhir dimana kita tinggal berjalan kaki lurus menuju ke pabrik tersebut, jadi kami turun dan berjalan kaki. For your info, saya nanya pak sopir seberapa jauh ke pabrik tersebut, beliau bilang g jauh ,tinggal belok kiri trus lurus aja ngikutin jalan, tp disini ada perbedaan interpretasi antara jauh dan dekat. Ketika kami berjalan kaki jarak tidak jauh yang beliau maksud itu adalah jarak yang jauh menurut kami. Mungkin karena masyarakat tersebut sudah terbiasa berjalan kaki dan kami saja yang mungkin terlalu di manja dengan fasilitas di kota besar, sehingga kami cukup “ngos-ngosan” sampe di Pabrik Welirang. Pabrik Welirang ini sudah cukup terkenal di masyarakat Banyuwangi, sehingga jika kita tanya penduduk setempat, pasti tau tempat ini
Sesampainya disini, kita minta ijin permisi sama bapak-bapak pegawai pabrik untuk nebeng ke Paltuding bareng truk penambang, Bapak-bapaknya sangat welcome, mungkin karena cukup banyak wisatawan local yang nebeng pake truk penambang (g ikut jeep yang nyewanya mahal ) haha. Oia, disarankan untuk memberi sekitar minimal 5000 rupiah dengan tingkat inflasi saat ini untuk tiap orang yang menebeng truck penambang, meskipun tidak ada harga pasti yang dipatok bapak-bapak tersebut, ibaratnya uang bensin. hehe Dan ini pengalaman pertama saya naik truk penambang di bak belakang, haha. Jalan menuju Paltuding tidak semulus tadi, berkelok-kelok dengan tanjakan yang kemiringannya bisa mencapai 45 derajat ditambah dengan belokan tajam. Jadi yang menggunakan mobil pribadi tidak disarankan lewat jalan ini, lebih baik melalui Bondowoso. Untung bapak pengemudi truk penambangan ini sudah terbiasa dan ahli dengan jalan curam tipe gunung gini. Pemandangan menuju Paltuding sangat Indah, disini kita nglewati Hutan berkabut dan dingin, meskipun saat itu jam 2 siang, di jalan banyak terdapat satwa liat terutama burung-burung, bahkan kata salah satu penambang dia cukup sering melihat macan tutul melewati jalan tersebut, hiii. Di perjalanan meskipun was-was dan pemandangan yang cukup indah akhirnya kita sampai dengan selamat di Paltuding. Yeaaaay…


*part selanjutnya segera di Publish. Foto2 juga menyusul :D ,atau klo mau lihat mentahan fotonya ada di https://www.facebook.com/media/set/?set=a.4069271543307.157314.1627906243&type=3

Saturday, 6 October 2012

untitled

Kamu, diatas senja berlari.
demi pagi kau bernyanyi,
dan lantas ?

 **

Ada mereka yang terlahir sempurna, fisik dan pikiran mereka
untuk siapa? dan mengapa ?
ada mereka yang berjuang dalam peluh dan menjunjung keterbatasan, untuk siapa dan mengapa ?

kita mengeja, berjalan lembut diatas peluru-peluru, rasuk asa, untuk siapa dan mengapa ?

aku tak mengerti...
mereka mencari keabadian diatas nasi hari ini,
mencari hidup dari rentetan pekerja rodi.
lantas ? itu berputar
untuk siapa dan mengapa ?

Dunia menyediakan itu semua,
sejenak kebahagian semu jika kau menemukan tujuan hidupmu dalam dunia
atau pengharapan tinggi ketika kau berkata masih ada hari esok

dunia menyediakan tawa diatas derita,
menyediakan kasur lembut di atas sebuah alas karung goni bersisik.
itu berputar, dan lantas untuk siapa mengapa ?

mereka yang lantas diberi kebahagiaan karena pesan yang tersampaikan
atau mungkin kecewa saat semua tak dimiliki
menyediakan memori untuk barisan harapan, atau bahkan derita batin
menyediakan tempat untuk mereka yang datang dan pergi
menyediakan tempat untuk perubahaan yang abadi
dan menyisihkan sejuta pertanyaan

dunia tak memberikan jawabannya hari ini,
dunia yang semu memang tak akan pasti
atau mungkin dunia sendiri tak berjanji
...
bahwa dunia ini, kepastiannya ada di esok hari.