Tuesday, 3 March 2015

Ketujuh. Arti

Perjalanan ini tidaklah mudah, perjalanan mencari arti.

tujuan, dan hidup apa yang sebenarnya akan kita tuju.
dibalik itu, seberapa mampu kita ikhlas berjalan hingga akhirnya menemukan jawaban,....

sebenarnya, saya sendiri kurang mengerti akan arti ikhlas.
Jika mungkin arti ikhlas adalah berdamai dengan kenyataan ketika rencana tidak berjalan sesuai yang diinginkan, maka banyak orang yang lebih pantas ditanyakan mengenai ikhlas.
Jika mungkin arti ikhlas adalah mereka yang tetap berusaha meskipun gagal, maka orang-orang tersebut yang lebih pantas ditanyakan mengenai arti ikhlas.
Jika mungkin arti ikhlas adalah mereka yang tetap menjadi teman berbagi sambil memendam rasa sedih mereka masing-masing agar orang lain lebih bahagia, maka orang tersebut yang lebih pantas ditanyakan arti ikhlas
....
Terus terang, jika orang bertanya, saya akan menjawab, tanyakan hal tersebut pada dirimu sendiri.

kehidupan manusia tidak selalu mulus sesuai rencana, beruntunglah mereka yang mendapati banyak hal berjalan sesuai rencana, maka bersyukurlah, akan ada rencana yang lebih indah

Kebanyakan manusia juga memiliki masalahnya masing-masing, maka berbagilah dan lihatlah bahwa saat kau merasa sendiri, banyak orang yang juga mengalami hal yang menurut mereka berat. Dan bersyukurlah, kau tidak sendiri...

kita yakin, dari balik senyum dan wajah yang bahagia, tersimpan rasa sakit yang dikunci rapat-rapat.
bukan berarti mereka tidak mau berbagi, namun memilih memendamnya sendiri. Lantas apa yang membuat dirimu memiliki masalah yang lebih berat. Bersyukurlah, semua akan baik-baik saja.

Ketika ada mereka yang lebih memilih memendam karena kita memiliki masalah masing-masing yang perlu diselesaikan maka beruntunglah mereka yang menjadi tempat berbagi beberapa orang. Kalian dianggap menyalurkan kebijaksanaan dan solusi. Dan bersyukurlah... kalian memiliki arti

Kepada mereka yang sering menjadi tempat berbagi, itu artinya kalian istimewa, diri kalian dianggap memiliki solusi dan menjadi tempat cerita yang paling ampuh dan melegakan, walaupun diri kalian juga memiliki masalah masing-masing. Dan bersyukurlah ketika kalian mampu saling melegakan
....
dan kepada mereka yang tetap menyimpan dan bersabar,
serta hanya berbagi senang, sedih, dan semua perasaan kepada Maha Pemilik Hidup
maka beruntunglah kalian, dan bersyukurlah,

kalian lebih pantas disebut orang-orang ikhlas yang mencari arti hidup
dan kemudian, semoga kita menemukannya.

Amiin


#p.s : dan untuk pemimpin-pemimpin negara ini, bersyukurlah, kalian menjadi tempat berbagi, dari kami warga negara biasa, yang berharap kalian "orang-orang istimewa yang memiliki solusi" , orang-orang pintar yang menjadi tempat kami warga biasa bergantung untuk hidup di negara ini. Ingat, kami bergantung dan merasakan solusi-solusi yang kalian usahakan. Usahakanlah untuk kami, bukan usaha untuk saling menjatuhkan atau memenangkan orang-orang tertentu dari golongan kalian..


Surabaya, Maret 2015. 10.48 malam. Ditengah polemik politik, lantas nilai tukar kita yang melemah, serta harga beras yang terus naik. Kalian orang-orang hebat dan pintar, karena itu kalian dipercaya.

Sunday, 1 March 2015

Keenam. Jari-jemari

Lantunan lagu mengalunkan rindu,
jari-jemari menarikan nada-nada lucu
terdengar sangat alami, meskipun dirimu bukan pemain piano yang baik
tapi dirimu terlihat berusaha
di usiamu yang masih sangat muda...

Seorang ibu lantas memandangi anak kecil itu berbalut seribu impian. Tentang jari jemari yang nanti akan menjadi pemenang. Suaranya lucu, kecil dan menggemaskan. Diiringi tawa dan tangis yang akan selalu dirindukan.

diriku pernah bercerita tentang mimpi yang akan kubangun kedepan,
dan dirimu tau tentang perasaan ini yang sebenarnya mengerjar mimpi itu, dari sosok setelah dirimu
tapi...

saat ini aku hanya bisa menuliskannya, dan tidak akan terjadi.
jika sendiri.




Kelima. Batas

Orang-orang baik berjalan masuk ke dalam.
Para penjaga meminta mereka pergi dengan kasar,
bersikap melarang agar para ahli tidak datang
dan lantas...
tembok kokoh pembatas dibuat untuk mereka yang disingkirkan.

Seperti biasa, aku terbangun dan lantas mencari mimpi yang berubah dalam kalimat pesan. Bedanya, saat ini aku bangun lebih pagi dari Mentari. Hendak memohon doa untuk kelancaran sebuah harapan dan perjuangan yang semakin membawa waktu kedalam lelah. Sampai pada akhirnya aku tau... batas itu ada, kau buat.

anganku semakin masuk kedalam,
untuk apa selama ini ? jika ternyata yang ada hanyalah rasa jenuh darimu
Para serdadu pergi meninggalkan kenyamanan rumah
mereka pergi ke negeri seberang atas titah Raja demi sebuah keindahan kemenangan
Perjuangan mereka sepertinya sia-sia
rasa tak enak makan, rindu, dan suara bising pesawat pem-Bom ditiap pagi sepertinya tidak ada arti
ketika batas komunikasi dibuat oleh mereka yang ada di seberang
ya aku tau, maksud semua ini.
serdadu-serdadu dari kavaleri lain mungkin lebih menawan.
dan lantas dirimupun mencarinya.

sementara para serdadu pejalan kaki berjalan siang dan malam
membuat batas zona aman semakin lebar
untuk menjaga tanah asal tetap bertahan
namun mereka, 
mati tak dikenang

dan ironi...
mereka diberi batas dari sebuah kayu mati
yang menandakan mereka pergi
tanpa arti...


Tuesday, 10 February 2015

Keempat. Beda

Gemuruh kereta transportasi massal menderu...
Aku menunggu moda paling cepat dan effisien dibanding harus menggunakan kendaraan pribadi...pasti jalanan macet.
Sembari menunggu, aku mulai membaca ramalan cuaca hari ini dengan koneksi wifi stasiun transit.
Hmmm, negara maju ini benar-benar memanjakan pengguna transportasi umum.

Mendadak gerimis datang, sesaat setelah ramalan cuaca mengatakan hari ini hujan deras. "Aku lupa membawa payung..sudahlah. toh waktu masuk juga masih sekitar 2,5 jam lagi. Sebaiknya aku menunggu."


rintik rintik hujan membawakan syahdu, akan ironi ritme yang berbeda.
Perbedaan hujan yang datang perlahan dan lembut, dengan mereka yang mengejar jadwal kereta terburu untuk berebut.
segala sudah berubah, perbedaan terasa semakin lebar

ada mereka yang dibedakan atas status sosial, ada mereka yang dibedakan atas status pendidikan, dan bahkan ada mereka yang dibedakan oleh merek barang yang melekat didirinya.
bukankah itu perbedaan yang ironi ? sebuah beda yang dihargai dari sebuah label merk.
semoga negara ini tidak seperti itu...

kita berbeda, waktu yang kita habiskan berbeda, tempat-tempat yang kita datangi juga berbeda, kemudian, kesibukan kita juga berbeda, dan paling dasar, perbedaan status membuat itu terasa.
kita akan jalan melabeli diri kita dan memberi jarak dengan perbedaan satu dengan lainnya
......

aku membuka kembali handphone untuk melirik waktu, walaupun ditangan kiriku ada sebuah jam tangan.
aku coba kembali membuka pesan. Mencoba membalas pesanmu...

aku terhening, diam sejenak, sembari mendengarkan pengumuman kereta yang akan datang di stasiun itu.

"hmmm, kamu pasti sibuk, tidak ada waktu untuk membalas pesanku, sudahlah...aku tidak akan mengganggu bahkan di sabtu minggu atau di waktu luangmu."

aku menutup kembali dan memasukan handphone dalam saku celana yang kebetulan bermerk yang kubeli bersamamu.

"kita beda, dalam waktu, dalam tempat, dalam pikiran, dalam kesibukan, dan dalam fokusmu. Lebih baik aku tidak mengganggu."

Pintu kereta tertutup, dan perlahan berjalan pergi.

Semoga ada waktu untuk kita bertemu kembali...



Cawang, 05.30 Pagi





Wednesday, 7 January 2015

Kedua. Harapan dan Kenyataan

"tergegas, tiba2 iya terbangun. Seperti biasanya, Bukan doa dan air wudhu yang iya cari, tapi Handphone...
Sudah terlalu lama dirinya menghamba pada satu benda, mulai dari waktu dan biaya dikeluarkan cukup banyak. Itu semua demi eksistensi melalui benda kecil berperangkat satelit."

Hmmm... tidak untuk diriku, mungkin benar handphone yang pertama kali aku cari, tapi itu untuk membaca pesan singkat darimu, sebuah sapaan di tiap pagi. Dan itu lebih dari cukup untuk membuatku yakin bahwa hari ini akan baik-baik saja.

Dan itu harapan, tapi pada kenyataannya, aku terbangun lebih dulu, dan sama sekali tidak ada ikon pesan di pojok kanan atas...sampai pada akhirnya, pesan itu datang, tepat setelah jam kerja sebentar lagi dimulai....


Bagiku. sebuah harapan indah muncul ditiap pagi ketika ada sebuah sapaan hangat dari dirinya, namun kenyataan berbeda, 

halo...apa kabarmu disana sayang ?
aku memiliki cerita hari ini, sedikit menjengkelkan, dan mungkin kau sudah mendengarnya saat teleponmu tadi.
ini tentang harapanku dan pekerjaan
tadi pagi aku mendapat sms mengenai rekrutment, sangat senang, dengan banyak harapan, dan kenyataan yang aku anggap masih sulit tentang pekerjaan, akhirnya ada sebuah proses... tapi Alhamdulillah, setelah aku baca hal tersebut telalu menjanjikan, dan ternyata benar, itu penipuan.
Menyebalkan ! disaat seperti ini, masih ada saja yang mencari kesempatan dan keadaan yang membingungkan orang lain.

Aku juga sempat menelpon ibu dan menceritakan hal itu, beliau berkata, "yang sabar, ini mungkin jalan yang harus ditemui sebagai bumbu pengalaman."
Alhamdulillah...dan bersyukur lagi aku tidak terkena bujuk rayu harapan omongkosong

dan seperti biasa, aku kembali bertemu Dhuhur, berat ketika rasa itu dan ingatan tersebut datang kembali. Harapan saat kau datang, dan sekarang kenyataannya kita berpisah jarak. Hmmm...bukan perkara mudah buatku

tapi buatmu, aku kurang mengerti, dirimu sempat tak ada kabar saat jam makan siang. Sepertinya dirimu sudah nyaman dengan lingkunganmu, dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan mereka terlebih dahulu. Dan ketika jam mu kosong, pesan singkatmu datang.

"maaf baru liat hape, kamu buruan makan, aku kerja dulu ya."

cukup singkat, hanya 2 pesan, dan intinya kau bertanya apa yang aku lakukan, dan dirimu akan melanjutkan pekerjaanmu. Ya sebatas itu, tidak ada obrolan panjang dengan semangat sewaktu dulu...hanya aku yang mengirim pesan berkali-kali namun, tidak dibalas langsung seperti biasanya saat kau fokus dengan apa yang ada di lingkunganmu saat itu.

hmmm, komunikasi yang terjaga ini sungguh aku harapkan. kenyataannya ?

sayang...apakah kau sebenarnya bosan ?
saat aku berada disampingmu, benda kecil itu yang selalu kau perhatikan. Sebaliknya, saat kita berjauhan, kau jarang menyempatkan waktumu melihat Handphone atau berusaha melirik pesanku...

aku tau, 
aku akan coba mengerti dengan bahasaku yang tak perlu kau ucapkan
apapun itu
....

-----------------------------------------

surabaya 7 Jan, 2015. Cerita Pengantar Tidur.

Pertama. Perjalanan.

Selasa, 6 Januari, 2015, 00.00

Dalam kegelapan, gerbong-gerbong besi datang dan mulai ditata. Orang-orang berebut masuk dalam tempat tidur sementara selama 10 jam kedepan. Namun masih ada beberapa orang yang lebih memilih duduk dan mengamati nafas-nafas harapan terhadap suatu perjalanan....
------------


Ada sepasang kekasih bergandengan tangan, terlihat suasana keharuan dan tak ingin ada sebuah perpisahan. Mereka masih tampak muda, sangat muda, perjalanan hidup mereka masih sangat panjang. Namun, dari sudut itu terlihat bahwa wanita tersebut tidak ingin ditinggalkan oleh kekasihnya merantau demi memperbaiki pribadinya.

Iya mengantarkannya sampai gerbong, dan disini saya hanya bisa mengamati....
-------
Seiring waktu semua akan berubah, seperti dengan perjalanan hari ini, kita bergerak saling menjauhi. Seperti matahari yang berlari menuju barat, agar semua tau, waktu tidak akan lama dan semua berubah.

-----

Masih hari yang sama, 2015, 12,00

Matahari kini ada di pelupuk mata, 12 jam yang lalu aku berjalan menjauhi dirimu, namun semuanya berbeda. Adzan Dhuhur mulai berkumandan, perasaan yang berbeda kini muncul, dan ini benar-benar membuatku tidak nyaman.

Suara motor Revo depan kosan sangat jelas, aku harap itu dirimu yang selalu memaksaku untuk pergi menemanimu kemana maumu, yang bahkan kau sendiri tidak tahu.

Kini perasaanku tau, fokusmu mungkin bukan diriku
waktu itu mungkin kita akan selalu bersama karena selalu bertemu
sekarang ?

"makasi, aku kerja dulu."

sebuah pesan singkat balasanmu baru saja muncul setelah beberapa kali aku kirim pesan panjangku kepada dirimu.

ya perjalanan ini

merubah kita


Surabaya, 6 Jan 2015, Sebuah renungan malam