Saturday, 11 August 2018

H.e.r

a little question was asked, "km lebih milih ngabisin duit buat jalan2 atau nabung buat nikah?"

pertanyaan yang nyleneh dan gabisa dipilih salah satu, karena pada intinya pengin keduanya. well, tapi karena keterbatasan dana dan biaya gedung itu mahal, saya sebagai an 8 to 5 person, mau ga mau harus memprioritaskan salah satu dan gabisa langsung memilih keduanya.

-------------------------------

Hari ke 367,

tepat setahun dua hari setelah pertemuan kami di pesawat menuju London waktu itu, saya tak pernah menyangka kita akan berteman dekat dalam waktu sesingkat ini. Terus terang, buku catatannya masih saya simpan dan belum saya kembalikan, bahkan mengakui buku itu aku temukan juga belum aku lakukan. Diantara aku ingin tetap menikmati tulisan-tulisannya, serta diantara aku ingin menikmati menjadi bagian dari inspirasi tulisanmu saat ini.

Ada satu bab dalam tulisan di bukumu, tentang perjalanan.

"dan aku menyeruput kopi sachet dalam cangkir kertas putih sembari menikmati pemandangan bukit Warinding di Pagi hari, Kopi sachet ini mendadak serasa kopi seduhan waralaba kopi terkenal di Ibukota, terlalu enak untuk dinikmati sendiri...

dan pada akhirnya saya sadar, tak ada tangan yang digenggam disamping saat ini
tak ada teman bercerita saat kita saling memandang pemandangan indah ini, bukan teman yang saling bertukar cerita di tempat kerja seperti biasa..."


---

Dari tulisanmu, kau telah menjejakan kaki diberbagai tempat eksotis di bumi pertiwi, semua kepulauan besar telah kau datangi, dan dengan waktu yang kau habiskan untuk berkeliling, kau lebih memilih berpergian sendiri...ntah kenapa, antara sifat introvertmu atau memang jadwal dengan teman yang sulit kau samakan ?

tapi dari tulisanmu juga, aku melihat dirimu kini mulai merasakan sepi itu, dan berharap ada tempat untuk berbagi cerita bersama saat itu juga tentang perjalanan.

---

Kita bertemu kembali di salah satu taman di sudut kampus perjuangan S2 ini,

"Hei, nglamun aja..." mendadak dia menepuk tanganku. "nglamunin apasih?'

           "Hahh....gapapa  kok, haha, habis kamu tadi tinggal nulis serius banget, sampe aku ngantuk"

"Wahaha, kebanyakan begadang tuh jadi bikin ngantuk. eh Btw, aku mau nanya....?"
            
            "Baru slese nglamun udah diuji aja dengan pertanyaan, mesti banget buk ? ", cetusku 

"Hahaha, iyaa dong, biar lebih jujur jawab pertanyaannya karena kaget"

              "Iyee buk, bawel...apaan emang ?'

"okey, one simple question, lebih milih nabung buat jalan-jalan, atau nabung buat nikah ?"

               " Nikah...udah bosen buat jalan sendiri, tapi nikahnya sama yang seneng jalan2 juga" jawabku dengan ekspresi seadanya karena memang masih kaget dengan pertanyaan tiba-tibanya yang selalu serius....


"Sama...." 

-------------------------






*dalam setiap hari yang sering kita habiskan bersama, dalam setiap kata dan tulisanmu, dan aku mulai mengenal dirimu...

Friday, 19 January 2018

Kala

Sabtu, Awal 2018. Pagi

Jakarta tak seperti biasanya, dingin...suasana musim hujan meredam sedikit hasrat para penghuninya diantara waktu dihari kerja.

Memberikan sela dan jeda untuk beristirahat dari rutinitas harian beserta deadline tak kunjung usai. Aku kembali menyeruput susu coklat hangat sembari membaca tulisan-tulisanmu dalam sebuah buku catatan.

"menarik, dan sejalan persepsi tentang kehidupan" pikirku

terus terang, aku tak pernah mengenal orang dibalik catatan ini secara langsung, bahkan bertemu. Yang aku tahu, seseorang secara tak sadar menjatuhkan buku setelah tergesa-gesa menutup backpacknya dan berlari mengejar commuter line selepas jam kantor di sebuah stasiun dibilangan Jakarta Selatan.

Pada awalnya aku berniat untuk mengembalikannya, dan mencoba mencari tahu pemilik buku ini dengan membaca tulisannya. Namun, aku justru membaca persepsi baru tentang perjalanan hidup seseorang, tentang sebuah titik dimana seseorang berjuang dan mencari arti kehidupan. Tentang bagaimana dia membuat keputusan seperti keputusan awal untuk menggunakan jilbab. Atau tentang saat dimana dia harus berjuang untuk sekedar menjaga uang kuliahnya terbayarkan tepat waktu, walaupun diposisinya saat ini, dirinya memiliki lebih untuk mampu keliling dunia.  

Tapi, diluar itu semua. Aku kagum dengan cara dirinya menyikapi tentang hidup dan perjuangan, sebuah sikap untuk tetap mengembalikan segala yang ia dapatkan kepada penciptanya, dan pengalaman menjadikan dirinya lebih dewasa, untuk mengajarkan yang lain bahwa semua berproses  untuk menjadi lebih baik, dan proses itu mengingatkan diriku pribadi, untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, yang telah mengatur segala.

-----------

Aku menaruh kembali susu coklat yang sudah habis aku minum dan tak lupa memasukan buku catatan itu ke backpack sebelum berkemas.

----------

Bandara Soekarno - Hatta,  3.15 Sore, Ruang Tunggu T3


Terdengar suara petugas memanggil boarding. Aku tak ingin terburu menuju gate karena ini akan jadi long-haul flight yang cukup melelahkan, pikirku.

Sesampainya dikabin, aku menaruh backpack dan duduk di seat tengah, ak menghela nafas karena aku tak bisa melihat pemandangan sepanjang penerbangan. 

Tiba-tiba, seseorang perempuan berjilbab warna pastel dengan tas tangan menyapaku, "permisi mas, saya duduk disamping jendela."

Setelah kami kembali terduduk, dia mengeluarkan buku catatannya. Aku sedikit meliriknya menulis.

'Sepertinya, ak pernah tau bentuk tulisan tangan itu.."

dirinya tiba2 menjulurkan tangan dan membuka percakapan setelah berharap agar penerbangan ini lancar dengan sedikit turbulensi.

"Halo, saya Kala..."






Friday, 18 August 2017

bukan sebuah tempat yang berwarna

aku melihat hitam diantara waktu yang menyatu menderu
aku bukan hinggap diantara kesenangan dan tawa tawa diatas waktu
aku sendu yang menyapamu,
mengharap kau membagikan tawa bersama dirimu
kedalam hinggap diantara jemari-jemari hangat
kedalam asa yang kau bawa diantara sambungan rel-rel kereta
diantara stasiun - stasiun sebelum kita kembali bersama
diantara waktu yang tak pernah kudapati bersama
meskipun tawamu ada disampingku

Thursday, 18 May 2017

Tentang Perempuan. Kisah

Kisah


"tidur yuk, besok senin nih...we'll back to routinity...haha" she said,

"okey...goodnight...#wink" replied me.

"anw, thanks for unconditional short trip this weekend, it helps me regain my positive vibes..." haha. then she replied again.

"haha, tidur tidur.... nitey." sambil tersenyum saya lantas menjawabnya


-------------

Jumat, weekend sebelumnya. 08.30

i call her, as usually we will spend weekend together. ditengah meeting yang padat merayap di senin-jumat sebelumnya..

"haloo sha, so soooooooo soooo sorry ya weekend ini gabisa ketemu..." aku berceletuk begitu aku bertemu dirinya dimalam itu.

"makan malem yuk, setelah ini free kaan ? "

"iyee freee...weekend juga masih nanya free apa egak" she said

aku hanya tersenyum melihat ekspresi kesalnya namun sambil menahan lapar, haha, selalu...dirinya yang tetap lucu walaupun dengan ekspresi marahnya.

kita tiba disebuah restoran di daerah jakarta barat, sebuah restoran steak milik presenter olahraga terkenal di stasiun tv sebelah.

" jauh amat ngajakin makan sampe sini..." she said accidently 

" haha, biar gampang dan cepet kita ke bandara." jawabku

" hah ? Bandara ? ini jadi ?" dia bertanya keheranan

" iya, i already bought the ticket, bali... last flight."

"hhaahahahaa, tau aja sih km, okey, tapi aku bawa barang seadanya ni.." she smiled afterall.haha

" iyee, ngapain bawa banyak2, cm 2 hari juga. jangan ngarep lama2 liburannya. ini kan short escaped." jawabku setengah memberi tau kenyataannya.


"haha, iyaaaaa.....thankkkss ya"


----------------------------------------

# sebuah sancto villa di Ubud, kita menyepi dari rutinitas ibukota yang terasa sangat melelahkan. Menikmati pagi hari sambil menyeduh teh dengan pemandangan terasering sawah dikejauhan. dan lantas menikmati alunan musik jazz festival tahun tersebut."

Selamat berakhir pekan. ;)


Sunday, 7 May 2017

Tentang Perempuan. Pelukan

Semalam,

Jalanan Jakarta dingin selepas hujan disiang menjelang petang. aku bertemu dirinya....

---------


Pelukannya sungguh menenangkan, memberikan kehangatan selayaknya dunia yang kembali bersahabat dalam problemanya.

"tenang saja, semua akan baik-baik saja. Percayalah..."

Kata-kata lembut dirinya sungguh menenangkan, dirinya menjadikan semua rasa gundah yang aku rasa mendadak hilang seketika. Baru kali ini aku merasa dipeluk seperti dipeluk oleh wanita pertama yang kucintai, yaitu ibuku. Pelukannya disaat ini memberikan rasa nyaman yang berbeda dari biasanya. Memberikan semangat kembali dan rasa optimis bahwa keputusan yang aku ambil adalah hal yang benar. Pelukan yang menjawab pertanyaan tentang apa yang harus aku lakukan saat ini. Pelukan yang datang tanpa aku harus meminta ditengah rasa takut yang kian menjalar. Takut akan kegagalan-kegagalan yang kembali akan terulang.

Aku tidak berkata banyak, setelah kutekan nomor telepon dirinya, dan mengatakan.

"sha, bisa ketemu hari ini ? aku pengin cerita"

and then she said,

"oke ky, ditempat biasa ya...i hope you doing well after all."

--

dirinya bisa melihat muka letihku dari kejauhan, senyum sapa yang menyembunyikan rasa khawatir dan takut mampu diartikannya,,,

dan dengan segera dan tetap tenang dia menawarkan.

"sini peluk, it will be fine..."

tanpa tedeng aling-aling, dia membuka tangannya sambil menawarkan pelukan sembari menghampiri.

......

ya, tanpa perlu berkata apa-apa, dia mendadak menjawab segala ketakutanku

dengan pelukannya

-------

#Hey, terima kasih, aku mulai merindukanmu....


Monday, 1 May 2017

Tentang Perempuan. Awal

Part. 1

Awal


Aku melihat dirinya membuka sebuah percakapan ringan tentang dunia, sebuah sudut pandang politik dan acuan ringan tentang hukum yang telah lama dipertentangkan. Dan diantara pendapatnya, tidak ada tendesi apa-apa, moderat, dan yang pasti, dirinya memperkaya imaginasi dan melebarkan batas tentang persepsi logika. Sebuah intelegensia...

Aku melihat dirinya membaca serius disebuah sudut toko buku, sambil membenarkan letak kacamata yang sedari tadi. Mungkin karena dia sering menunduk memperhatikan puluhan judul buku. Buku yang dibuat dengan judul sedemikian menarik dengan sampul yang berwarna. Aku menatapnya...
memperhatikan fokus nya yang tak pernah lepas dari satu buku karya Seno Gumira. 

Tiba-tiba dia bercerita, " banyak buku bagus disini, banyak banget dengan segala persepsi dari para penulisnya. Dan banyak buku yang bisa membawa imajinasimu ketempat terjauh yang pernah kau tau. Tapi dari itu semua, mendapatkan yang paling pas untuk dirimu dan keadaanmu saat ini, dan kemana imajinasimu ingin didetailkan melalui tulisan-tulisan dibuku itu. Itu yang sulit...."

"Yaa, sepertinya aku akan mengambil buku ini dan menghabiskan diakhir pekanku." dirinya lantas mengambil buku yang dipilihnya sambil berlalu tak perduli, seperti biasanya, tetap meninggalkan kesan yang aku pikir itu menarik.

-----

Dalam satu malam, sebuah pesan singkat WA masuk
" Besok ada konser musik ini nih (sambil mengirim poster acara tersebut), Nonton yuk, ticket on me.I'll send it by email, soon."

tiba-tiba, dia mengirimkan mengajak begitu saja, tanpa ada sebuah persetujuan, atau bahkan pertanyaan apakah jadwalku kosong ? sepertinya dia mengerti kalau seorang introvert seperti saya ini pasti tidak memiliki kegiatan apa-apa diakhir pekan... #syem.

ya terlepas dari sifat-sifat impulsifnya yang sering saya tidak mengerti, tapi itu cukup memberikan warna ditengah keteraturan yang biasa aku bangun, Dan satu lagi, terkadang aku tidak cukup paham dengan selera musiknya, terkadang menyukai aliran pop romantic seperti kebanyakan perempuan lainnya, dan sering juga menyukai aliran musik klasik, bahkan sering juga dia memberikan refrensi musik beraliran alternative rock.. Uncommon, but interesting. 
Dan terlepas dari itu, nama band atau penyanyinya tidak aku kenal dan sepertinya jarang muncul dimedia nasional.

Well, pikiran-pikirannya memang jarang aku pahami, bahkan aku sering berdebat dengan dirinya tentang intepretasi sebuah lukisan dalam sebuah pameran seni independent di Jogja. Namun dalam seni, dia cukup memiliki selera, dan terlepas dari itu. Tak jarang kita memiliki kesamaan. Kesamaan akan sebuah seni independen yang minim publikasi media nasional, dimana ide riil masih cukup besar dan tak terpengaruh pasar

-----


Kita bertemu selepas jam kerja, dia mendadak mengajak kesebuah tempat yang asing. "makan yukk disini, bayar dewe dewe ya tapi, haha ". Sambil bertingkah ceria seperti biasanya dan menarik tanganku untuk segera memesan taksi online. Tiba-tiba ia menimpali "udah belum....?"

dengan ekspresi datar aku menjawab, "baru juga buka hape, sabar...."
dia menjawab, sini hapenya, aku aja yang pesan.... dan kuberikan dengan ekspresi tetap datar

Kita sampai pada tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya, sebuah tempat makan yg cukup unik, perabotan minimalis disertai gambar-gambar kartun tahun 90-an penuh menjadi hiasan dinding di tempat tersebut. Beberapa gambar poster pop art juga dipasang.

"aku pengin ksini dari minggu lalu. Habis pulang meeting kemarin liat tempat ini cukup nyolok mata. Jadi deh ak pengin kesini..." timpalnya setelah kita memilih tempat duduk. 

"impulsifnya keluar lagi buu ? untung bukan tempat yang dimaps ada tapi riilnya uda bangkrut . haha" sambarku .

Dia memang terlalu impulsif dan saya kadang tidak bisa mengakomodir keimpulsifannya. Tp selama ini dia membawa ketempat yang cukup menyenangkan dan belum pernah saya datangi ditengah kebiasaan saya ketempat-tempat itu saja.


----






Saturday, 1 April 2017

#1

aku merindu,

bersama waktu dirimu yang ada
dalam kenangan hangat akan keluarga dan kebersamaan
ada apa dengan perasaan ?

genggam erat tangan menuju peraduan
ditiap tingkat hasrat